Home / Adab / Tubuh Sakit, Berobat Dengan Sunguh-Sungguh, Ketika Hati Sakit?

Tubuh Sakit, Berobat Dengan Sunguh-Sungguh, Ketika Hati Sakit?

penyakit hati

(di sudut ruang UGD rumah sakit) “sakit sekali dokt…sakit, kasi aja obat yang keras, berapapun saya bayar…”

“saya sudah membawa sakit saya ini ke dokter spesialis paling terkenal di kota ini, ahli herbal juga sudah, apalagi dukun, ustadz (berkedok dukun) pun sudah saya datangi, ada indo orang pintar ga di sana? Nanti saya datangi…”

“biaya transplantasi hati ke Cina mencapai 2 miliyar (belum obat-obatan dan peawatan) pak… berapapun saya bayar…”

 

Perbandingan ketika tubuh yang sakit dan hati yang sakit

Ketika tubuh mengalami sakit atau tertimpa penyakit maka manusia akan menempuh seluruh cara agar sembuh dan mencari kesembuhan di manapun dan semua upaya dicurahkan. Kita lihat jika seseorang sakit pusing saja, maka ia mencari obatnya, belum lagi yang terkena penyakit parah, misalnya kasus seorang tokoh di Indonesia yang terkena kaknker hati, ia pergi melakukan transplatasi hati di Cina dengan biaya operasi saja 2 miliyar, belum lagi biaya keberangkatan, tinggal dan perawatan. Akan tetapi qaddarullah ia tidak sembuh dan meninggal.

 

Akan tetapi ketika yang sakit adalah hati, ia sombong karena menjadi atasan dan kaya, kasar kepada Istri, hasad kepada teman seperjuangan, terlena dengan manisnya dunia, terkena penyakit syahwat, pikiran terkena berbagai syubhat/kerancuan pemahaman agama dan hati cenderung senang melakukan maksiat bersama jahil mengenai urusan agama, maka kebanyakan manusia lalai, santai saja, seloah tidak terjadi apapun. Karena hati sudah kotor bahkan tertutup, imannya habis tidak peka lagi terhadap maksiat dan dosa.

 

Sakit tubuh tidak seberapa dibanding sakitnya hati

Padahal, Jika yang sakit adalah tubuh, maka ia sejatinya adalah rahmat Allah yang bermaksud baik kepada kita. Jika kita bersabar maka bisa jadi dosa kita terhapus semuanya dan bisa jadi jika kita meninggal akibat penyakit tersebut maka kita menghadap Allah dengan tanpa dosa sedikitpun karena sudah terhapus.

Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya.”[1]

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

مَا يَزَا لُ البَلاَءُ بِلْمُؤْمِنِ وَلْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَا لِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَة

“Cobaan itu akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada diri anaknya, ataupun pada hartanya, sehingga ia bertemu kepada Allah tanpa dosa sedikitpun.”[2]

 

Sedangkan penyakit hati, maka ia adalah kebinasaan dunia dan akhirat. Seharus iman dan hati seorang muslim cepat mendeteksinya, berupa ilmu akan hal tersebut dan berupa kesedihan ketika melakukannya dan segera bertaubat kemudian membalasnya dengan melakukan kebaikan, kemudian jika hati sakit dan sulit untuk disembuhkan seperti sangat sering sombong dan sangat lemah terhadap godaan wanita maka ia bawa ke tempat-tempat melunakkan hati seperti masjid, orang miskin , orang sakit dan perkuburan untuk mengingat akhirat.

Al-Quran menunjukkan bahwa hati ini bisa sakit dan dihinggapi penyakit, Allah Ta’ala berfirman,

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu  Allah menambah penyakitnya.” (Al-Baqarah: 10)

Allah juga berfirman,

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِّلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ

Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang keras hatinya.” (Al-Hajj: 53)

 

Segera deteksi dan obati penyakit hati

Ketika seseorang sakit badannya maka ia akan mencari dokter spesialis atau dokter yang terbaik untuk menyembuhkannya. Harus dokter yang berkompeten dan sudah terakui ilmunya. Sedangkan jika hatinya sakit, jika ingin mengobatinya kepada dokter hati [yaitu ulama atau ustadz], maka ia memilih sekedarnya saja, ia tidak mengecek bagaimana keilmuan dokter hati tersebut, bagaimana akidahnya, bagaimana manhaj bergamanya. Apakah ustadz tersebut telah lama menuntut ilmu, telah menguasai ilmu-ilmu dasar, menguasai bahasa Arab atau minimal punya kompetensi dan pengalaman menyembuhkan penyakit hati.

Selayaknya jika hati kita sakit maka kita meminta bimbingan kepada dokter hati, ulama dan ustadz yang ahli bartanya kepada mereka yang memang ahlinya. Allah Ta’ala berfirman,

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [An Nahl : 43].

 

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

 

@Laboratorium Klinik RSUP DR Sardjito, Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   dr.Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

 

 


[1] HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573

[2] HR. At-Tirmidzi no.2399, beliau berkata: hasan shahih, demikian pula syaikh Al-albani

Leave a Reply