Home / Adab / Buka puasa dengan telan air liur atau isap jari?

Buka puasa dengan telan air liur atau isap jari?

2images

Masih teringat ketika kecil kami diajarkan jika sedang berpuasa dan makanan belum tersedia atau tidak ada, maka kita berbuka puasa dengan menelan air liur atau mengisap jari. Hal ini mungkin dalam rangka menyegerakan berbuka sebagaimana dalam hadits,

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka puasa.”[1]

 

Akan tetapi ini perlu ditinjau kembali karena tidak ada ajaran tersebut dalam Islam, bisa kita perhatikan hadits berikut,

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”[2]

 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin berkata,

فإن لم يجد رُطباً ولا تمراً ولا ماءً أفْطَر على ما تَيسَّر من طعام أو شرابٍ حلال. فإنْ لم يجد شَيْئاً نَوى الإِفطار بقلبِه ولا يمص إصْبَعَه أو يجمع ريقَه ويَبلعه كما يفعلُ بعضُ العَوَامِّ.

“Jika tidak mendapatkan kurma basah/ruthab, kurma kering/tamr atau air untuk berbuka maka ia berbuka dengan apa yang mudah baginya berupa makanan dan minuman yang halal. Jika tidak mendapatkan sesuatupun untuk berbuka, maka ia berniat berbuka dalam hatinya, tidak menghisap jari atau mengumpulkan air liur kemudian menelannya sebagaimana yang dilakukan sebagian orang awwam.”[3]

 

Demikian catatan ringan ini semoga bermanfaat. Amin

 

Lombok-Raehanul Bahraen-15 Sya’ban 1433 H

 Artikel www.muslimafiyah.com

 


[1] HR. Bukhari  4/173 dan Muslim no. 1093

[2]HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, dishahihkan oleh syaikh Ali Hasan Al Halabi, dalam sifat shaum

[3] Majalis Syahri Ramadhan hal.54, darul Aqidah, Koiro, cet.I, 1429 H

Leave a Reply