Sebagian Qari’ yang Fokus pada Alunan Al-Quran SAJA

S

[Rubrik: Sekedar Sharing]

Kita bersyukur dengan kehadiran para qari’ di sosmed yang mengajarkan Al-Quran dan membacakan Al-Quran dengan merdu dan membuat nyaman serta syahdu hati kaum muslimin.

Akan tetapi ada fenomena yang perlu kita perbaiki bersama, yaitu fokusnya hanya pada alunan bacaan Al-Quran SAJA tanpa berusaha mempelajari isi Al-Quran dan tafsirnya, atau gaya sebagian Qari’ dan (pendengarnya juga) yang pola hidupnya tidak mencerminkan isi Al-Quran

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan bahwa di akhir zaman nanti akan banyak dijumpai orang-orang yang menikmati Al-Quran hanya sekedar bacaannya namun tidak mempelajarinya kandungannya. Bahkan di zaman kita sekarang, orang-orang mulai lebih cenderung mendengarkan Al-Quran dari Qari’-Qari’ yang bagus suaranya saja, apalagi jika sang Qari’ tersebut ganteng.

Jika kita mencoba bertanya apa kandungan dan pelajaran dari ayat yang dia dengarkan berulang kali tersebut, mereka akan menjawab, “Tidak tahu, yang penting enak didengar dan nikmat di telinga.” Sehingga di zaman sekarang para Qari’-Qari’ layaknya artis terkenal yang dielu-elukan. Bahkan bisa jadi Qari’ itu sendiri tidak memahami apa yang dia baca, alih-alih memahami kaidah-kaidah Bahasa Arab.

Padahal tujuan utama Al-Quran diturunkan adalah sebagai petunjuk bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS Al-Baqarah : 185)

Sehingga Al-Quran diturunkan untuk dipelajari dan diamalkan kandungannya, bukan sekedar dibaca apalagi hanya menjadi pajangan. Itupun dipajang dengan alasan agar syaithan tidak masuk ke dalam rumah.

Terkhusus bagi para Qari’, siapapun dia termasuk kami. Hendaknya berusaha untuk ikhlas, belajarlah membaca Al-Quran dengan mengharap wajah Allah bukan karena ingin disebut Qari’. Karena keinginan tersebut justru bisa menjerumuskan ke dalam neraka. Bukanlah yang paling pertama diadzab di neraka para pezina, bukan para perampok, bukan orang fasik dan ahli maksiat, melainkan para pembaca Al-Quran, para mujahid, dan ahli sedekah. Kenapa bisa demikian? Karena mereka beramal bukan karena mengharap Allah melainkan karena riya’ dan ingin disanjung oleh manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabada,

إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ … وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

“Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat … (salah satunya Nabi menyebutkan) … Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya : ‘Amal apa yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab : ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Quran hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Quran supaya dikatakan (sebagai) seorang Qari’ (pembaca Al-Quran yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. (HR Muslim, no. 1905)

Artikel www.muslimafiyah.com (Asuhan Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma’had Al Ilmi Yogyakarta)

Leave a Reply