Home / Adab / Perut adalah Wadah yang Buruk, Sumber Penyakit

Perut adalah Wadah yang Buruk, Sumber Penyakit

Beberapa sumber penyakit dalam ilmu kesehatan adalah 
[1] Makanan

[2] Lingkungan

[3] Penyakit
Salah satu penyebab terbanyak penyakit adalah karena makanan. Lihat saja penyakit-penyakit yang muncul di zaman modern ini, kebanyakan adalah sakit pola hidup karena makanan yang tidak sehat dan tidak terkontrol:
-Diebetes

Makan manis-manis dan makanan berkalori tinggi seperti es krim, manisan, minuman cepat saji
-Kolesterol

Makan lemak, berminyak, dan gorengan tidak sehat
-Hipertensi

Makan garam yang terlalu banyak dan pola hidup tidak sehat
-Asam Urat

Makan emping, bayam, nangka serta makanan dengan kadar purin tinggi
Tidak heran dalam hadits dijelaskan bahwa perut adalah “wadah terburuk” yang diisi.
ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas” [1]
Karenanya kita diperintahkan agar mengontrol makanan, bukan sekedar untuk memuaskan nafsu mulut dan perut. Tidak tamak dan asal makan saja, seorang muslim perlu banyak puasa dan menyedikitkan makanan
Imam Na-Nawawi rahimahullah berkata,
مع أن قلة الأكل من محاسن أخلاق الرجل ، وكثرة الأكل بضده
“Sedikit makan merupakan kemuliaan akhlak seseorang dan banyak makan adalah lawannya.” [2]

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,
لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة
“Karena kekenyangan (memuaskan nafsu perut dan mulut) membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah.”[3]
Mari kita jaga pola makan sehat kita, karena ini adalah perintah agama kita yang mulia
@Di Keheningan malam (jaga malam), Yogyakarta Tercinta
Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com
 

[1] HR At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah (3349), Ahmad (4/132), dan lain-lain. Dan hadits ini di-shahih-kan olehAl-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2265)
[2] Syarh Muslim lin Nawawi 14/25
[3] Siyar A’lam An-Nubala 8/248, Darul hadits, Koiro, 1427 H, syamilah

Leave a Reply