Home / Adab / Terlanjur Mencintai Tetapi Belum Mampu Menikahi

Terlanjur Mencintai Tetapi Belum Mampu Menikahi

Laki-laki dan wanita yang telah saling mencintai tetapi belum mampu menikahi

Ikhwan A: Ustadz, inilah waktu yang ana tunggu-tunggu. Akhirnya ana lulus kuliah dan ana sudah mendapat SIM [Surat Izin Menikah] dari ortu. Hanya saja ustadz,  ana sudah terlanjur jatuh hati dengan seorang akhwat aktifis di kampus. Dia cantik dan putih, IPK-nya cumlaude, gesit dan sering jadi tokoh penting kegiatan-kegiatan di kampus. Akan tetapi yang buat ana agak gusar, dia sama ana berbeda manhaj dalam beragama ustadz. Inilah  yang membuat ana seminggu ini tidak nyeyak tidur.

Ustadz: memangnya antum yakin dia mau sama antum?

Ikhwan A: ana cukup yakin ustadz, dia sering tanya-tanya permasalahan agama ke ana. Awalnya ana menjawabnya dengan memberi buku dan menitipkan lewat temannya. Tapi karena dia terlalu sering bertanya, ana jawab langsung aja SMS-nya. Trus dia sering minta nasehat dan lama-lama dia sering curhat ke ana. Ana heran kenapa kok ana terus yang dia hubungi. Nah dari sini ana mengambil kesimpulan bahwa ia sejatinya sedang menunggu ana ustadz.

Ustadz: terus, antum sekarang mau “maju” sama dia?

Ikhwan A: nah itu dia ustadz permasalahannya, rencana ana, ana pengen “maju” sama dia, memang kita berbeda manhaj dan ana yakin dengan manhaj ana yang sekarang, akhwat itu memang perlu didakwahi karena manhajnya kurang tepat. Rencana ana akhwat itu, “dibini” dulu baru dibina ustadz. Nanti ana yang ngajak dia “ngaji” dakwah manhaj salafiyah.

Ustadz: afwan, ana ingin menasehati antum. Ana lihat antum masih kurang “ngaji”-nya. Antum ana lihat belum kokoh ilmunya. Ana sarankan antum mencari akhwat yang sudah “ngaji” saja. Supaya antum tidak capek mendidik lagi, belum lagi kesibukan sebagai kepala rumah tangga nanti. Rencana antum “dibini” dulu baru dibina, bisa-bisa jadi “dibini” kemudian dibina-sakan. Atau antum yang dibina-sakan. Malah antum yang terbawa manhaj akhwat tersebut. Antum cari akhwat yang sudah “ngaji” saja. Barakallahu fikum

Fulanah: yaa ukhti, tolong ruqyah ana, banyak jin dan setan cinta dalam tubuh ana. Yaa ukhti apa anti tahu amalan atau doa yang bisa menghapuskan ingatan dan memori?

Akhwat A: kenapa ukhti, anti kok grasak-grusuk gelisah sekali?

Fulanah: entah dari mana ana harus memulai kisah ini, ana juga tidak habis pikir, kenapa dan kenapa bayangan wajah laki-laki itu selalu menari-nari di pelataran alam khayal ana. Mengapa namanya yang selalu tereja di lisan dan pikiran ana. Bagaimana bisa pikiran ini bergerumuh setiap kali melihat hadiah-hadiah pemberian yang ia beri. Dan kenapa dunia ini serasa gersang jika tidak ada siraman kabar dari dia.  Dan dimanakah keimanan ini? ana akui ya ukhti, ana jatuh cinta dengannya. Salahkah seorang wanita yang sangat haus kasih sayang dan manja ini jatuh cinta?

Akhwat A: aduh, anti apa-apaan sih, curhat aja pakai bahasa puitis kayak gini, keseringan buat puisi ya? Atau sudah terlalu penuh “beban” di dada ukhti? Sekarang jelaskan, jatuh cinta sama ikhwan? Ya tinggal bilang aja, tantang dia jika emang jantan, atau anti tawarkan diri anti aja.

Fulanah: nah, itu dia ukhti, ini laki-laki bukan sembarang laki-laki, dia  pemain band terkenal. Sering manggung di kampus-kampus. Orang so pasti keren, ganteng pula, jadi idola cewek-cewek di kampus. Dia itu sibuk-sibuk manggung tapi asisten dosen lho.

Akhwat A: astaghfirullah ukhti, anti kok kagum sama yang seperti itu, gimana kok bisa jatuh cinta kesem-sem sama dia?

Fulanah: kami dulunya satu kelompok praktikum. Awalnya ana bisa menjaga diri dari para laki-laki. Tapi yang satu ini sepertinya terus-terus berusaha mendekati ana. Dia sering sms, kasih hadiah, malah dia katanya mau main-main ke rumah ana. Jelas ana tolak mentah-mentah. Tapi lama kelamaan, kata-kata manis dan pengorbanannya membuat hati ana meleleh. Sekuat-kuat iman wanita, hati ana lemah, akhirnya luluh juga. Ana tidak kuasa menolak sms pertanyaan tentang agama ke ana, ana juga tidak kuasa menolak hadiah yang setiap satu minggu sekali dikirim ke rumah ana via pos. Dia bilang, ana satu-satunya tempat jangkar, agar perahunya menepi. Dia bilang juga ana berbeda dengan wanita-wanita lain, yang gampang dia dapatkan. Dia sangat penasaran dengan ana. Kok baru kali ini ada wanita yang sukar sekali luluh dengan dia. Dia bilang, ana wanita yang spesial. Dia juga mengikrarkan bahwa, akan menempuh segala cara agar ana memberikan tangan sebelah lagi sehingga cinta bisa bertepuk. Ana sadar ini racun , tetapi kenapa ana masih ingin mengisapnya sampai habis ya? Ana sadar dia kurang baik buat akhirat ana, tetapi kenapa hati ini selalu bertumpu padanya?

Akhwat A: wah, susah juga kasus anti, masalah hati masalah yang berat, kita tanya ustadzah aja. Anti juga sudah kalang-kabut kayak gini, pake minta ruqyah segala lagi, padahal anti sudah tahu tidak dianjurkan dalam agama.

Panah cinta melesat sebelum busurnya ditarik

Demikianlah cinta asmara, dia kebanyakan berbuah sebelum waktu panennya. Dia  bukan mendahului takdirnya, akan tetapi lingkungan dan perubahan zamanlah yang membuat seperti ini. Mudahnya laki-laki dan wanita bercampu-baur. Gampangnya mereka bertemu dan bertatap muka. Sehingga tabiat dan jiwa manusia yang butuh akan perhatian lawan jenis dan hakikat manusia yang mudah tertarik dengan lawan jenis, ditambah lagi hati manusia yang lemah akan cinta. Ini semua membuat panah cinta melesat sebelum busurnya ditarik.

Okelah, jika sudah tiba saatnya, maka tidak mengapa. Bisa segera ia halalkan. Akan tetapi terkadang waktu halalnya tidak sepanjang galah. Ia masih panjang, sepanjang hulu yang ingin mencapai hilirnya. Jangan salahkan syariat yang seolah-olah mengurung hati yang sudah jatuh cinta itu dalam periuk yang tertelungkup dan kemudian terkekang terbelenggu. Akan tetapi salahkanlah manusianya yang memang sudah jauh dari ajaran Islam dan hampir mendekati kiamat. Syariat sudah mengultimatum agar laki-laki tidak sebegitu mudah bersua dengan wanita, dan begitu juga wanita agar tidak bermudah-mudah berinteraksi dengan laki-laki dalam hal yang tidak perlu.

Inilah akibatnya jika manusia kebanyakan tidak peduli, panah cinta asmara melesat dan menghujam di hati manusia. Bagi yang tidak mengindahkan seruan syariat, maka ia  berbahagia sejadi-jadinya. Sangat menikmati panah cinta yang menembus dadanya. Padahal panah itu sejatinya menimbulkan luka, ia sadar benar merasakan perihnya, perihnya rindu jika tidak tersalurkan. Akan tetapi racun khamer asmara di ujung panah membuatnya mabuk dan tidak sadar bahwa ia sedang kecanduan dan tinggal menunggu overdosis sehingga  berakhirlah petualangannya dalam bungkusan syirik cinta yang memenjarakan dan membalut erat hati kecil keimanannya.

Bagi yang peduli terhadap agama yang mulia ini. Maka panah cinta ini adalah siksaan, dia tahu bahwa ini adalah luka yang segera harus disembuhkan. Akan tetapi tidak mudah mencabut panah cinta seperti ini, karena panah cinta kebanyakan mempunyai kait-kait di ujungnya. Jika ditarik paksa maka akan merobek dan mengoyak daging sehingga luka semakin besar dan parah. Akan tetapi jika dibiarkan, maka racun khamer asmara akan segera menyebar dan menjalar melalui darah dan kemudian bersemayam kuat di otak pikiran, karena racun itu tahu otak adalah raja kerajaan tubuhnya. Apalagi dibantu oleh setan yang berjalan dalam aliran darah manusia. Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّم

“Sesungguhnya setan berjalan/mengalir dalam tubuh manusia melalui peredaran darah“.[HR. Al Bukhari no. 6219 dan Muslim no. 2175]

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hasits ini,

قال القاضي وغيره قيل هو على ظاهره وأن الله تعالى جعل له قوة

وقدرة على الجري في باطن الإنسان مجاري دمه وقيل هو على الاستعارة

لكثرة اغوائه ووسوسته فكانه لايفارق الانسان كما لايفارقه دمه

وقيل يلقي وسوسته في مسام لطيفة من البدن فتصل الوسوسة إلى القلب والله أعلم

“Al-Qhodi dan yang lain berkata, “ dikatakan [pendapat terkuat] bahwa Allah menjadikan baginya [setan] kekuatan dan kemampuan untuk berjalan/mengalir dalam batin manusia melalui peredaran darah. Dan dikatakan juga [pendapat lain] bahwa ini adalah metafora/perumpamaan karena seringnya menyesatkan dan memberikan was-was. Sehingga ia tidak berpisah dengan manusia sebagaimana darah tidak berpisah dengannya. Dan dikatakan [pendapat lain] bahwa setan memberikan was-was melalui pori-pori kulit yang halus di badan kemudian menuju ke hati. Wallahu a’lam”.” [Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj 14/157,Dar Ihya’ut Turots, Beirut, cet. Ke-2, 1392 H, Asy-Syamilah]

-Tentukan jalan jika jatuh cinta, antara 2-H: Halal (yang sah) atau Hilang (dari pikiran)-

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , Follow facebook dan   follow twitter

4 Comments

  1. abi tamb says:

    subhanallah WAlhamdulillah, ana udah bisa melupakan akhwat itu. sungguh manisnya iman. tpi ya ustad, mengapa dia terus ingin komunikasian sama ana, walaupun ana tidak memperhatikannya. dan bisa bisa jika terus menerus itu dilakukannya, hati ana bisa terperdaya jg ustad. menurut ana hal yang perlu dilakukan yaitu menghilangkan semua kontak nya di sosmed ,dan hal hal yang terkait dgn nya. benarkah seperti itu ya ustad?.

  2. Ya Ustadz mau tanya, saya seorang wanita bisa dibilang tulang punggung keluarga, sungguh mengenai pernikahan pasti itu yg diharapkan semua wanita,
    Pernah ada orang yg menawarkan kerabatnya kepada saya, tapi saya merasa tidak pantas secara sosial dan saya juga merasa agama saya masih kurang, terlebih saya harus membantu kedua orang tua.
    Meskipun mereka jg menginginkan anaknya u/k segera berumah tangga.
    Ustadz apa yg harus saya lakukan? Saya sadar umur semakin bertambah, dan saya juga tidak mau mengecewakan orang tua terlebih membuat mereka malu karena anaknya belum berjodoh. Jazakallah khairan katsira 🙂

  3. sujazmaji anjas says:

    Ustad saya suka sama seseorang tapi saya merasa belum mampu menikahinya makanya saya belum ungkapin perasaan saya

Leave a Reply to eka febriyani

Cancel