Home / Adab / Berjalan Di Kebun Surga Ketika Mengunjungi Orang Sakit (Tenaga Medis Yang Visite Pasien)

Berjalan Di Kebun Surga Ketika Mengunjungi Orang Sakit (Tenaga Medis Yang Visite Pasien)

Kita bisa memperoleh keutamaan dan pahala yang banyak dengan mengunjungi orang sakit, menghiburnya dan mendoakannya. Khususnya bagi tenaga medis semisal dokter atau perawat ketika visite pasien bisa meniatkan sekaligus niat mengunjungi orang sakit. Karena tenaga medis tidak sekedar menjenguk, menghibur mendoakan tetapi sebagai perantara kesembuhan dengan mengobati.

Mendapatkan pahala yang besar karena merupakan cara untuk memberikan kegembiraan bagi saudaranya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

أفضل الأعمال أن تدخل على أخيك المؤمن سرورا

Sebaik-baik amal Shalih adalah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”[1]. 

 

Keutamaan-keutaman mengunjungi sebagai berikut:

-disiapkan surga baginya

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِى اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً »

“Barangsiapa menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya seislam (karena Allah), maka akan ada yang memanggilnya, bahwa engkau telah berbuat baik dan perjalananmu juga baik serta engkau telah menyiapkan suatu tempat tinggal di dalam Surga.”[2]

-berada di taman surga dan memetik buah-buahnya

Tsauban mengabarkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا عَادَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Sesungguhnya seorang muslim bila menjenguk saudaranya sesama muslim maka ia terus menerus berada di khurfatil jannah hingga ia pulang (kembali).” [3]

Dalam lafadz lain,

مَنْ عَادَ مَرِيْضًا، لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا خُرْفَةِ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: جَنَاهَا

“Siapa yang menjenguk seorang yang sakit maka ia terus menerus berada di khurfatil jannah.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah khurfatil jannah itu?”. Beliau menjawab, “Buah-buahan yang dipetik dari surga.”[4]

-dimintakan ampun oleh para malaikat

Ali radhiallahu ‘anhu berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُوْدُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيْفٌ فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain di pagi hari melainkan 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di sore hari. Dan jika ia menjenguknya di sore hari maka 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di pagi hari. Dan ia memiliki buah-buahan yang dipetik di dalam surga.” [5]

-melembutkan hati dan membuat sering bersyukur

روي أن رجلا جاء إلى عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها فقال يا أم المؤمنين إن بي داء فهل عندك دواء قالت وما داؤك قال القسوة قالت بئس الداء داؤك عد المرضى واشهد الجنائز وتوقع الموت

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata,“Wahai Ummul mukminin, saya mempunyai penyakit, apakah engkau mempunyai obatnya?”. ‘Aisyah berkata, “apak penyakitmu?”. Ia berkata, “kerasnya hati”. Maka ‘Aisyah berkata, “obat bagimu adalah mengunjungi orang sakit dan mengiringi jenazah dan bersiap-siap terhadap kematian.”[6]

 

Kita dianjurkan menjenguk orang sakit

Hukum menjenguk orang sakit adalah fardhu kifayah, karena ada perintah dan merupakan hak saudara sesama muslim

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ

Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin (bila yang bersin mengucapkan hamdalah, jika tidak maka tidak didoakan, pent.).”[7]

Bara’ bin Azib berkata,

وعَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ ، قَالَ:أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم …وَأَمَرَ بِسَبْعٍ : عِيَادَةِ الْمَرِيضِ ، وإتباع الْجَنَائِزِ ، وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ ، وَرَدِّ السَّلاَمِ ، وَإِبْرَارِ الْمُقْسِمِ ، وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِي

“Rasulullah melarang dan memerintahkan kami dalam tujuh perkara: Kami diperintah untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan menolong orang yang dizholimi, memperbagus pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yang bersin…”.[8]

 

Aku sakit, kenapa tidak dijenguk?

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وعن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم- : (إن الله – عز وجل – يقول يوم القيامة : يا ابن آدم ! مرضت فلم تعدني، قال : يا رب ! كيف أعودك وأنت رب العالمين ؟ ! قال أما علمت أن عبدي فلانا مرض فلم تعده، أما علمت أنك لو عدته، لوجدتني عنده

‘Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’

Dia berkata. ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?!’

Dia berfirman, ‘Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisinya.’[9]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan hadits,

قال العلماء إنما أضاف المرض إليه سبحانه وتعالى والمراد العبد تشريفا للعبد وتقريبا له قالوا ومعنى وجدتني عنده أي وجدت ثوابي

“Para ulama berkata bahwa penyandaran (idhafah) si sakit kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maksudnya adalah memberikan kemuliaan kepada hamba dan sebagai bentuk ibadah (taqarrub). Para ulama berkata juga bahwa makna “engkau akan mendapatiku di sisinya” adalah mendapatkan pahala dan kemulian dari-Ku.”[10]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

 

Disempurnakan di Lombok, pulau seribu masjid

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

 

 


[1] HR.Ibnu Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shaghir no. 1096

[2] HR. At-Tirmidzi IV/365 no.2008 dan dinyatakan shahih oleh syaikh Al-Albani di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib II/349 no.2578

[3] HR. Muslim no. 6498

[4] HR. Muslim no. 6499

[5] HR. At-Tirmidzi no. 969, dishahihkan Al-Imam Al-Albani  dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5767 dan Ash-Shahihah no. 1367

[6] Dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Bustanul Wa’idzin hal. 159, Mu’assasah Maktabah Tsiqafiyah, Beirut, cet. II. 1419 H, syamilah

[7] HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 5615

[8] HR. Bukhari no. 18698

[9] HR. Muslim, no. 2569

[10] Syarh Shahih Muslim 16/126, Dar Ihya’ At-Turats, Beirut, 1392 H, syamilah

2 Comments

  1. Miftahul habib says:

    Subhanallah…

Leave a Reply