Home / Bimbingan Islam / Kedokteran Modern Dan Thibbun Nabawi Tidak Bertentangan, Bahkan Bisa DiKombinasikan

Kedokteran Modern Dan Thibbun Nabawi Tidak Bertentangan, Bahkan Bisa DiKombinasikan

Ulama syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin rahimahullah berkata,

أرى أن يجمع الإنسان بين هذا وهذا ولا منافاة بأن يجمع بين الرقية الشرعية وكذلك الأدوية الحسية ولا مانع،

“Saya berpendapat sebaiknya manusia mengkombinasikan antara ini (ruqyah syar’iyyah) dengan itu (kedokteran modern). Tidak ada pertentangan antara ruqyah syar’iyyah dengan pengobatan fisik (obat yang diminum).

( Al-Irysad Ila Tahabibil Muslim hal. 14, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syamilah)

 

Berikut kisah nyata (insyaAllah karena kami kenal orangnya) semoga bisa menjadi Ibrah bagi kita:
1. Tidak mau cuci darah hanya mau bekam saja

Ada seorang ustadz yang terkena penyakit gagal ginjal stadium akhir, beliau tidak mau cuci darah dengan kedokteran modern. Hanya mau bekam saja, hanya saja kondisi beliau terus memburuk. Mual-muntah yang sangat sering dan kaki semakin bengkak.

Akhirnya kami melakukan pendekatan kepada beliau. Kami jelaskan agar beliau mau cuci darah dan MENGKOMBINASIKAN dengan bekam. Alhadulillah beliau menerima dan beliau akhirnya mengakui setelah cuci darah kondisi beliau jauh lebih enak dan nyaman. Beliau juga terus melanjutkan terapi bekam.

2. Demam tinggi tidak mau minum obat hanya mau habbatus sauda dan madu saja

Seorang senior kami penuntut ilmu agama (sekarang beliau adalah pengasuh situs islam yang cukup terkenal), ia sudah terkena demam cukup tinggi selama tiga hari, ditambah batuk dan pilek. Tetapi beliau tidak mau mengkonsumsi obat-obat kimia dari kedokteran barat, apalagi konsultasi ke dokter. Beliau hanya mengkomsumsi madu dan habbatus sauda selama sakit, akan tetapi qaddarullah, Allah belum berkehendak memberikan kesembuhan kepadanya, kemudian ustadz kami menanyakan kepada beliau kenapa tidak periksa ke dokter.

Saya [penulis] juga sempat berdiskusi dengan beliau, saya berkata, mengapa tidak DIKOMBINASI saja pengobatannya minum obat kedokteran barat dengan minum  madu dan habbatus sauda. Karena demam tinggi jika tidak diobati akan berdampak cukup serius bagi tubuh. Dengan mengkonsumsi obat penurun panas sederhana seperti paracetamol maka demam tubuh bisa turun dan kondisi tubuh bisa lebih stabil untuk melakukan upaya peyembuhan sendiri melalui imunitas tubuh

Dan masih ada beberapa kisah yang lain, misalnya seseorang yang minum habbatus sauda dengan terus-menerus tanpa dosis dan saking semangatnya mungkin dosisnya agak banyak. Tetapi qadarullah penyakit belum sembuh dan mengalami gagal ginjal. Mohon maaf, kami tidak mengatakan gagal ginjlanya karena terlalu banyak minum habbatus sauda, tetapi perlu diketahui bahwa habbatus sauda MENGANDUNG ZAT KIMIA AKTIF seperti seperti thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ),   thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY)

Semoga semakin banyak ilmuan muslim yang meneliti mengenai thibbun nabawi berserta penjelasan ulama terhadap Al-Quran dan hadits. Sehingga cita-cita kita bersama thibbun nabawi menjadi rujukan pertama dalam pengobatan.
@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

2 Comments

  1. Naila says:

    Assalamu’alaikum dok, teman saya pernah mengatakan kepada saya bahwa terapi herbal (thibbun nabawi) itu tidak bisa dikombinasikan dengan terapi kedokteran modern, karena bila dikombinasikan, salah satu dari terapi tersebut akan menghambat kerja terapi lainnya yang digunakan (misal terapi thibbun nabawi akan menghambat terapi kedokteran modern bila dikombinasikan penggunaannya atau sebaliknya). Bagaimana pendapat dokter mengenai hal ini? Syukron atas jawabannya.

Leave a Reply