Home / Adab / Korban Perasaan ketika Berdakwah

Korban Perasaan ketika Berdakwah

Dalam berdakwah dan berjuang di jalan Allah, kita berkorban harta, tenaga dan pikiran, sebagaimana dalam ayat.[1] Bisa jadi, ada satu lagi yang perlu kita korbankan, yaitu korban perasaan

Maksudnya bagaimana? Mungkin pernah ada yang mengalami:

Ia berdakwah ikhlas karena Allah, menjadi panitia majelis ilmu, membuka dakwah di kampung, menginisiasi dakwah di daerah yang sulit. Bisa jadi dilakukan dengan susah payah dan ikhlas karena Allah tanpa bayaran sedikit pun.
Akan tetapi dalam perjalanan dakwah, mendapatkan ujian kesabaran berdakwah yang bisa jadi harus “korban perasaan”. Tentu kita harus bersabar, karena dakwah dan sabar itu tak terpisahkan.[2] 
Korban perasaan misalnya:
1. Bisa jadi (maaf, tidak mengeneralisir) ada jamaah sendiri yang mengktritik dengan keras dan tanpa  adab menasehati kekurangan-kekurangan panitia kajian. Mengkritik harusnya pelaksanaan dakwah dan kajian “sempurna dan ideal”. Padahal panitia tersebut adalah para sukarelawan dan bukan profesional yang dibayar.

Yang membuat sakit hati “korban perasaan” kritik pedas tanpa adab berasal dari jamaah sendiri, yang kalau si pengkritik sendiri mengurus kajian dan menginisiasi belum tentu mau (jadi sukarelawan) dan belum tentu hasilnya juga lebih baik
2. Ketika menginisiasi sebuah dakwah, bersama-sama dengan teman dan kawan membangun. Kemudian ditunjuklah salah satu menjadi ketua atau penanggung jawab. Akan tetapi seiring perjalanan, satu persatu teman-teman yang tadi bersemangat (bahkan yang punya ide) mengundurkan diri satu persatu dengan alasan yang tidak syar’i dan tidak bisa diterima secara organisasi. Tinggalkan sang ketua dan penanggung jawab sendiri mengurusnya
3. Ini lebih terasa jika berasal dari kawan atau teman sendiri yang melakukan kritik tersebut
Sekali lagi kasus ini langka tapi ada, kami tidak mengeneralisir. Kami yakin, para aktivis dakawah mayoritasnya semangat dan ikhlas mencari balasan terbaik dari Allah
Bagaimana jika sudah korban perasaan?

hiburannya tidak lain, tidak bukan yaitu mengingat bagaimana suri teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam “korban perasaan” sangat jauh melebihi kita
1. Para Nabi dan Rasul tidak meminta upah dari dakwah mereka.[3] Kalau kita mungkin uang bensin dan uang pulsa diganti.
2. Para Nabi dan Rasul sangat besar ujian dan cobaannya karena berdakwah. Ada yang dicaci dan dicela serta diberikan gelaran-gelaran yang buruk.[4] Bahkan ada yang diteror dan ada yang dibunuh, sesangkan kita hanya dibicarakan saja (dighibahi), tidak sampai diteror langsung
3. Jika kita mengeluh sampai “sampai kapan” bersabar, ternyata para nabi dan orang shalih sebelum kita diuji sangat berat sampai mereka berkata “kapan pertolongan Allah datang” setelah mereka diguncangkan dengan ujian yang dahsyat.
Allah berfirman,
ﺣَﺴِﺒْﺘُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗَﺪْﺧُﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻭَﻟَﻤَّﺎ ﻳَﺄْﺗِﻜُﻢْ ﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺧَﻠَﻮْﺍ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ۖ ﻣَﺴَّﺘْﻬُﻢُ ﺍﻟْﺒَﺄْﺳَﺎﺀُ ﻭَﺍﻟﻀَّﺮَّﺍﺀُ ﻭَﺯُﻟْﺰِﻟُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣَﻌَﻪُ ﻣَﺘَﻰٰ ﻧَﺼْﺮُ ﺍﻟﻠَّـﻪِ ۗ ﺃَﻟَﺎ ﺇِﻥَّ ﻧَﺼْﺮَ ﺍﻟﻠَّـﻪِ ﻗَﺮِﻳﺐٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh MALAPETAKA dan KESENGSARAAN, serta DIGONCANGKAN (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat .” (QS. Al Baqarah: 214)
Semoga Allah menguatkan kita dan memberika kesabaran bagi kita dalak berdakwah

@Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan kaki:
[1] Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم
“Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa, dan lisan kalian“ ( HR. Ahmad 3/124 no. 12268, An-Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 3096)
[2] silahkan baca:

Berdakwah Itu Bersabar, Bersabar dan Bersabar Serta Membalas dengan Akhlak Mulia


[3] Allah berfirman,
ﻗُﻞْ ﻣَﺎ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺃَﺟْﺮٍ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺘَﻜَﻠِّﻔِﻴﻦَ
“Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” [Shâd/38:86]
[4] Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebelumnya diberi gelar Al-Amin yaitu terpercaya kemudian diberi gelar tukang dusta dan penyihir
Allah berfirman.
ﻭَﻋَﺠِﺒُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢْ ﻣُﻨْﺬِﺭٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ۖ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ﻫَٰﺬَﺍ ﺳَﺎﺣِﺮٌ ﻛَﺬَّﺍﺏٌ﴿٤﴾ﺃَﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟْﺂﻟِﻬَﺔَ ﺇِﻟَٰﻬًﺎ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ۖ ﺇِﻥَّ ﻫَٰﺬَﺍ ﻟَﺸَﻲْﺀٌ ﻋُﺠَﺎﺏٌ
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. [Shad/38: 4-5]

Leave a Reply